Pose Selfie Dua Jari Ternyata Berbahaya

pose selfie dua jari

Mungkin Anda tidak menyadari bahwa berfoto selfie dengan pose dua jari membentuk tanda ‘peace’ ternyata berbahaya. Kedengarannya memang tidak masuk akal. Tetapi berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan dari Peneliti National Institute of Informatics (NII) Jepang, selfie dengan pose tersebut memang berbahaya.

Dikutip dari The Telegraph, Selasa (17/01/2017), foto selfie dengan pose dua jari dapat memberikan peluang bocornya informasi biometrik dari sidik jari seseorang. Informasi ini akan mudah dimanfaatkan oleh para peretas.

Belakangan, produk smartphone premium banyak yang memiliki fitur andalan berupa sidik jari sebagai salah satu bentuk pengaksesannya. Sidik jari biasanya digunakan sebagai fitur pengaman untuk berbagai akun, seperti untuk akses otoritas tertentu.

Peneliti NII juga mengingatkan, foto selfie biasanya diambil dalam jarak kurang lebih tiga meter. Dalam jarak tersebut, foto sidik jari yang diambil berpotensi dicuri oleh peretas dan mereka pun dapat mengolah informasi sidik jari dalam foto tersebut.

“Hanya dengan gaya kasual tanda peace di depan kamera, sidik jari akan bisa dibaca secara luas,” jelas profesor keamanan dan media digital NII, Isao Echizen, dalam koran lokal Sankei Shimbun yang dikutip The Telegraph.

Peringatan ini bukanlah main-main. Sebab, sudah pernah ada kasus yang terkait dengan hal ini. Korbannya adalah petinggi sebuah negara, tepatnya pada tahun 2015 lalu. Peretas bernama Jan Krissler mengolah kembali selaput pelangi mata dari Angela Merkel, Kanselir Jerman, dari sebuah foto. Sehingga pada akhirnya peretas itu dapat membuka akses dalam sebuah pengujian.

Setiap orang memang memiliki informasi biometrik yang unik, tetapi karakter khas itu justru memiliki kelemahan. Tak seperti password atau kata sandi, biometrik tidak bisa diubah. Itu berarti, begitu informasi biometrik telah diretas maka akan berakhir sudah. Oleh karena itu, biometrik meningkatkan kekhawatiran atas keamanan data pribadi seseorang.

“Kita membawa data biometrik fisik di mana pun kita pergi, meninggalkan sidik jari di atas benda apa pun yang kita sentuh, menyebarkan foto selfie  di media social, membuat video dengan teman dan keluarga. Banyaknya informasi ini dapat diambil oleh penipu,” ucap Robert Capps, pakar keamanan dari perusahaan biometrik NuData.

Robert mengungkapkan bahwa begitu data biomaterik dicuri dan dijual kembali secara gelap, maka risiko akses tak berwenang hingga akses ke akun pengguna akan terus berlangsung sepanjang hidup korban.

Sebagai pencegahan, tim Echizen telah menciptakan filem transparan yang dapat dipakai pada ujung jari untuk melindunginya dari upaya pengambilan data biometrik. Filem ini terbuat dari titanium oksida, yang mampu mencegah sidik jari disalin orang lain.

“Filem transparan dengan pola putih yang telah kami kembangkan dapat mencegah pencurian identitas melalui sidik jari palsu yang diperoleh dari subjek yang difoto. Namun tidak mengganggu verifikasi identitas perangkat autentifikasi sidik jari,” jelas Echizen.

Namun sayangnya, teknologi ciptaan Echizen tersebut belum siap di pasaran setidaknya dalam dua tahun ke depan.

Sebagai alternatif, perusahaan asal Tiongkok, Goodix, telah mengembangkan solusi keamanan dengan membuat pemindai sidik jari khusus yang akan mencetak dan menganalisis jaringan dan nadi dasar dari seseorang. Prinsip kerjanya adalah dengan menganalisis lapisan lebih dalam dari sidik jari seseorang. Solusi ini mampu mencegah pencurian data biometrik.

 

Sumber : news.viva.co.id

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password